Sabtu, 23 Januari 2016

Hasan Tiro Lolos Gara-gara Membersihkan Senjata

   Hasan Tiro Lolos Gara-gara Membersihkan Senjata  

Kamis, 03 Juni 2010 | 16:13 WIB
Hasan Tiro Lolos Gara-gara Membersihkan Senjata  
Tgk Muhammad Hasan Ditiro, Mantan Pemimpin Tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Sabtu (11/10). Dia disambut para mantan gerilyawan GAM dan masyarakat Aceh. Tempo/Adi Warsidi

TEMPO Interaktif, Jakarta -- Wafatnya Hasan Tiro ini tentu saja meninggalkan duka yang mendalam bagi rakyat Aceh. Pria yang disapa rakyat Aceh sebagai “Paduka yang Mulia” ini memang sangat dielu-elukan. Wali Nanggroe Aceh yang lahir pada 25 September 1925 itu akan dimakamkan di samping kuburan Teungku Cik Di Tiro di Desa Murue, Indrapuri, Aceh Besar. Leluhurnya yang tercatat sebagai salah seorang pahlawan nasional.

Kecintaan rakyat Aceh itu juga terlihat saat dia pulang ke Aceh pada Oktober 2008. Massa membludak memadati Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka datang dengan truk dan puluhan mobil. Banda Aceh yang tak pernah macet, hari itu mendadak menjadi kota yang macet total. Datang dari berbagai penjuru Aceh, mereka menyambut kedatangan tokoh yang disapa ”Paduka yang Mulia Wali” itu.

Maklum, Hasan sudah meninggalkan Aceh sejak 1979. Ini empat tahun setelah
Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka dan membentuk Angkatan Gerakan Aceh Merdeka di pegunungan Pidie. Hasan memperjuangkan ketertindasan rakyat Aceh dari pemerintahan Pusat pada masa lalu. Dia bercita-cita Aceh menjadi negara yang makmur dan rakyatnya bebas dari kesewenang-wenangan.

Dalam memperjuangkan nasib rakyat Aceh, Hasan sangat jelas sikapnya. Bahkan pada suatu kesempatan, dia pernah mengatakan sanggup berjuang untuk Aceh walau hanya dengan kekuatan tujuh pemuda saja. Sejak mendirikan GAM, Hasan lebih banyak bermukim di pegunungan bersama sejumlah pengikut setianya, seperti Dr. Muchtar, Zaini Abdullah, Husaini Hassan, dan Daoed Paneuek. Maklum mereka menjadi buronan TNI, dituduh sebagai separatis.

Bermodalkan senjata api tua sisa-sisa perjuangan Daoed Beureu-eh (tokoh DI/TII di Aceh), Hasan dan pendukung setianya di Aceh menghadapi TNI yang waktu itu sudah dilengkapi senjata yang modern. Suatu ketika ketika mereka sedang bersembunyi di pegunungan kawasan Aceh Utara, mereka telah terkepung pasukan TNI.

Di puncak bukit, Fauzi Hasbi Gedong, yang waktu itu adalah salah seorang panglima GAM, sedang membersihkan senjata tuanya. Tiba-tiba senjatanya meletus dengan sendirinya, dan letusan ini mengejutkan pasukan TNI yang sedang merayap hendak mengepung mereka. Tembakan balasan pun terdengar, dan kelompok Hasan pun lolos dari kepungan pasukan TNI.

Belakangan Hasan mengungsi ke Swedia, dan membangun kekuatan GAM dari sana. Merekrut pemuda-pemuda Aceh untuk berjuang bersamanya dan melatihnya di Lybia. Lalu diterjunkan ke Aceh untuk menghadapi TNI. Kendati cukup banyak yang ditangkap, namun semangat GAM tak pernah surut. Sehingga waktu itu sampai-sampai disebarkan berita bahwa Hasan Tiro telah meninggal pada 1990-an. Dua kali, Hasan Tiro diisukan meninggal. Rupanya ini hanya trik untuk merontokkan semangat GAM. Namun upaya ini juga gagal.

Dalam perjalanannya, banyak perkembangan yang terjadi di tubuh GAM. Di antara ada tokoh-tokoh GAM yang membelot dan membantu TNI, seperti Fauzi Hasbi Gedong dan Arjuna (mantan Panglima Muda GAM). Di luar negeri, GAM juga terbelah. Husaini Hassan kemudian keluar dari GAM dan mendirikan Majelis Pemerintahan GAM di Swedia pada 1998. Uniknya mereka yang sudah terpecah-pecah ini tetap menempatkan Hasan Tiro sebagai simbol perjuangannya.

Fauzi Hasbi Gedung yang sudah membelot lebih dulu punya banyak kisah tentang Hasan Tiro. Fauzi yang setelah membantu TNI sedang menyebarkan rasa benci untuk Hasan Tiro, sangat menghormati dan mengagumi Hasan Tiro. Begitu juga pada Arjuna yang juga terlibat dalam upaya menghentikan gerakan pejuang GAM, ternyata mengidolakan sosok Hasan Tiro.

Pertanyaan serupa sempat saya tanyakan pada Husaini Hassan yang hingga kini masih bermukim di Swedia. Dia sangat percaya pada gerakan yang dibangun Hasan Tiro. Bahkan dalam Majelis Pemerintahan GAM yang didirikannya itu, dia menempatkan Hasan Tiro pada sebagai pemimpin mereka.

Mereka tersinggung berat jika kita menyampaikan informasi negatif tentang Hasan Tiro. Mereka tak peduli apakah informasi itu benar atau salah, asalkan bercerita buruk tentang sang tokoh maka nyawa bisa melayang. Bagi mereka, Hasan Tiro adalah kebenaran mutlak dan penempatannya pun sebagai Paduka yang Mulia.

Dan perdamaian Helsinki pada Agustus 2005 juga terwujud sebab Hasan Tiro mengangguk setuju. Setelah perdamaian, rakyat Aceh pun semakin terbuka bersimpati kepada GAM yang dipimpin Hasan Tiro ini. Bahkan mereka memilih Irwandi Yusuf dan M. Nazar untuk memimpin Aceh juga disebabkan bendera GAM, dan itu adalah Hasan Tiro. Memilih pasangan ini, ibarat kata rakyat Aceh sebenarnya memilih simbolnya yaitu Hasan Tiro.

Said Fuad Zakaria, tokoh Golkar Aceh yang kini adalah Anggota DPR-RI juga kagum pada sosok Hasan Tiro. “Ini seorang tokoh perjuangan nyang sangat dicintai rakyat Aceh. Dia seorang demokrat sejati, peran perdamaian Aceh berada pada Hasan Tiro. Kalau bukan karena Hasan Tiro, tak mungkin ada damai di Aceh,” katanya saat berbincang dengan saya. “Hasan Tiro adalah pahlawan perdamaian Aceh. Adalah tugas kita bagaimana mengisi perdamaian ini agar Aceh menjadi makmur seperti yang dicita-citakan Hasan Tiro.”

Nurlis Meuko, Wartawan asal Aceh

Kekhawatiran Hasan Tiro Kini Terbukti?

Kekhawatiran Hasan Tiro Kini Terbukti?

18 November 2014 08:30 WIB

JUMAT kemarin saya bertemu Sulaiman Bombai alias Toke Man Bombai dan Teungku Ramli, mantan ketua Fraksi Partai Aceh di DPR Aceh periode 2009-2014. Kami memang sudah janjian beberapa hari lalu.
Sulaiman adalah orang Aceh yang sudah menetap di Malaysia. Ketika kami bertemu, ia baru saja kembali dari negerinya di Malaysia.
Kami janjian bertemu di Medan. Dari Banda ke Medan mereka naik bus. Mereka teman baik saya sejak beberapa tahun lalu. Setiap saya ke Malaysia mereka lah yang paling sering menjamu saya. Saya malah sempat beberapa kali ke rumah Toke Man di Kubang Gajah. Di rumah beliaulah kami beberapa kali duduk rapat paskapenandatanganan MoU Helsinky. Kami sering dijamu makan besar. Sepanjang saya kenal keduanya adalah orang-orang di garda depan dalam membantu "perjuangan".
Saya menjemput mereka di Mess Perwakilan Aceh di Pattimura, Medan. Kami ngopi di Sunrose. Kedai kopi gayo milik Haryanto Tan. Saya ingin mengenalkan keduanya dengan Haryanto. Saya juga ingin Toke Man dan Ramli melihat bagaimana Haryanto yang orang Cina itu punya kepedulian besar terhadap Aceh.
Teungku Ramli dan Sulaiman juga pedagang yang cukup sukses di Malaysia. Di Aceh, Sulaiman duduk sebagai Dewan Pengawas di Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA). Ini adalah perusahaan plat merah yang didanai oleh APBA.
Di kedai Tan kami berbincang banyak hal sebelum saya mengantar keduanya ke pesta kerabat mereka di Tandem jalan ke arah Binjai.
Yang pertama mereka tanyakan ke saya malah masalah berita yang dimuat media online ATJEHPOST.Co ini. Terkait kritikan terhadap penanganan bencana dan pembagian kekuasaan antara gubernur dengan wakil gubernur.
Saya malah menertawai mereka. Pasalnya setahu saya mereka adalah orang di sekeliling kekuasaan. Bahkan di masa perjuangan dulu mereka adalah garda terdepan perjuangan di negeri seberang.
Saya balik bertanya kepada mereka kenapa semua ini harus terjadi. Mengapa mereka membiarkan hal ini tetjadi. Kenapa sekarang membiarkan kekuasaan di tangan mereka menjadi begitu liar. Bahkan menyakiti rakyat dan teman seperjuangan.
Ketika pertanyaan itu bertubi-tubi saya tanyakan mereka langsung bermuka masam. Teungku Ramli-lah yang pertama angkat bicara.
"Saya hanya ingin menceritakan sebuah hal kepada kamu tentang kejadian di Kamp Tajura Libya menjelang latihan kami selesai," kata Ramli dengan mata menerawang, memutar ingatan ke masa lalu sekitar penghujung tahun 1980-an.
Kisah itu terjadi menjelang shalat Jumat. Seperti biasa, almarhum Teungku Hasan di Tiro menjadi khatib setiap Jumat. Ketika itu, dari sekitar 800 penghuni kamp hanya sedikit yang ikut salat. Penghuni kamp bukan hanya asal Aceh tapi juga dari Bangsamoro Filipina dan dari bangsa lain. Alasannya menjelang jumat air di mesjid tidak ada. Sehingga ramai yang kembali ke kemah masing-masing.
Selesai ritual Jumatan Wali Hasan Tiro  memerintahkan semua warga asal Aceh kumpul ke mesjid. Kebetulan saat itu sejumlah petinggi GAM juga sedang di Tajura.
"Wali berpidato sampai sore di mesjid, dengan berurai air mata Wali menerangkan kepada mereka bagaimana pahitnya perjuangan ke depannya," kata Ramli.
Ramli pun mengutip sepotong kalimat Wali yang masih membekas diingatannya. "Na gata-gata kira padim phet para pemimpin yang ka syahid demi perjuangan nyoe, sementara gata cuma karena persoalan ubit malah hana peukong jamaah (adakah kalian pikirkan betapa pahitnya para pemimpin yang syahid demi perjuangan ini, sementara kalian cuma karena persoalan kecil malah tidak memperkuat jamaah)."
Saat itu Wali menyebut satu persatu sahabatnya yang telah syahid seperti dr Muktar, dr Zubir dan yang lain.
Saking kesalnya, kata Ramli, Wali melempar bundelan buku catatannya ke depan Bakhtiar Abdullah, salah satu pembantunya. "Baktiar, bileueng padim abeh biaya untuk gata2 nyoe jak keunoe? (Bakhtiar, hitung berapa habis biaya untuk kalian dikirim ke sini).
Hasan Tiro menegaskan mereka dibawa ke sana untuk mengenal dirinya selaku orang Aceh.
"Bila bangsa lain menulis heroismenya dalam kisah fiksi atau dalam cerita legenda nenek moyang, kalian melukiskan heroisme dalam kisah nyata dan dicatat oleh bangsa-bangsa besar di dunia. Bahkan bangsa kita adalah bangsa terhormat dalam pergaulan dunia. Kita tercatat sebagai bangsa yang turut mengakui sejumlah kemerdekaan bangsa-bangsa di Eropa," kata Ramli mengutip ucapan Hasan Tiro saat itu.
Yang diingat Ramli, ketika itu Hasan Tiro dengan berurai air mata sangat khawatir mereka, para anak didiknya, belum pantas menjadi pemimpin. "Bagaimana kalian memimpin bangsa kalian sementara memimpin diri sendiri saja kalian tidak mampu?."
Ramli pun teringat kondisi Aceh saat ini. Ramli mengaku sedih melihat pemimpin pemerintahan Aceh  hari ini yang menurutnya jauh dari nilai-nilai yang di ajarkan wali kepada mereka."Sepertinya kekuatiran Wali sudah terlihat jelas sekarang," katanya seraya menghela nafas panjang.
Sulaiman alias Toke Man, punya cerita lain. Menjelang penandatangan MoU Helsinki, 11 tokoh perjuangan dari Malaysia berangkat mengunjungi Wali ke Swedia. Diantaranya Teungku Radak, Sulaiman, dan Teungku Ramli.
Setelah beberapa hari di sana, pada satu kesempatan tinggallah mereka bertiga di apartemen Wali. Teungku Radak masih famili dekat Wali.
Ketika mereka sedang berbincang bersama Wali, datang telepon dari pertugas apartemen yang mengatakan ada yang ingin menemui mereka. Diantara tamu itu ada yang bernama Usman yang tak lain adalah menantu Teungku Radak.
Usman sudah beberapa tahun menetap di Swedia karena mendapat suaka. Tapi Usman tidak sepaham dengan Wali dalam soal perjuangan. Ia ikut barisan sempalan. Setelah menerima telepon dari petugas apartemen, Teungku Radak mohon izin kepada Wali agar menantunya itu diperbolehkan naik dan menemuinya.
Saat itu Wali sedang serius membaca poin-poin isi perundingan RI dan GAM. Dengan wajah serius wali berujar "lon peugah bak gata-gata, lam perjuangan nyoe hana syedara atau keluarga. Meunyoe gata nak meureumpok melintee sideh di Tai Ping (nama daerah tempat tinggal Teungku Radak di Malaysia). Sinoe tempat bagi yang meusuetia ngon  perjuangan (saya jelaskan kepada kalian, dalam perjuangan ini tidak ada istilah saudara atau keluarga, kalau mau bertemu menantu di Tai Ping, di sini tempat bagi yang setia dengan perjuangan)."
Dari sanalah Sulaiman melihat bagaimana prinsip tegas Hasan Tiro dalam soal perjuangan. "Bahkan beliau sangat anti KKN," kata Sulaiman.
Dari cerita Teungku Ramli dan Sulaiman, jelaslah bagaimana Hasan Tiro membangun fondasi perjuangan demi martabat Aceh.
Nah, sekarang silahkan anda melihat perilaku pemimpin kita hari ini. Bila anda ke Meuligoe, rumah dinas Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat ini, maka anda boleh melakukan survei bahwa semua penghuni baru sejak rezim ini menempati Meuligoe, saya yakin semua punya hubungan keluarga atau satu kampung. Mulai tukang lap, sampai staf khusus.
Ini fenomena yang sangat menarik: ada penguasa yang begitu memberdayakan keluarganya bahkan dengan memusuhi rekan seperjuangannya.
Mungkin wali punya ilmu laduni sehingga menurut Sulaiman dan Ramli berkali-kali Wali khawatir bagaimana mereka akan memimpin Aceh jika suatu hari perjuangan itu sukses.
Ternyata, baru di ambang sukses perilaku orang kepercayaannya jauh di atas prediksi banyak orang. Bahkan  dari cara berpakaian pun melebihi pejabat dari Jawa sana dalam mencintai batik. Bila ada penghargaan kecintaan memakai batik, saya kira beliau pantas diberi gelar melebihi Datuk Sri.[]

Pertempuran Terakhir Panglima GAM Abdullah Syafie

23/01/16 oleh Armia

Pertempuran Terakhir Panglima GAM Abdullah Syafie


HARI sudah gelap ketika mobil yang kami tumpangi memasuki Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Terletak di kawasan perbukitan, desa ini berjarak sekitar 10 kilometer arah selatan Luengputu, atau 35 kilometer dari Sigli, ibukota Kabupaten Pidie. Beberapa kali kami harus turun dari mobil karena bertemu jembatan kayu yang telah bolong-bolong. Bahaya betul kondisinya.
Hari itu, 23 Januari 2002. Berangkat dari Banda Aceh, kami menuju ke sana setelah mendapat kepastian jenazah Panglima GAM Teungku Abdullah Syafie akan dimakamkan di desa itu. Sebelumnya, sempat beredar kabar jenazah akan dimakamkan di kampung halamannya di Matangglumpang Dua, Bireuen.
Teungku Abdullah Syafie meninggal setelah tertembak dalam sebuah pertempuran di hutan Jim-jim, Pidie Jaya, 22 Januari 2002. Namun, jenazahnya tak langsung dievakuasi. Untuk memastikan yang tertembak adalah orang nomor satu dalam tubuh militer GAM, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Brigjen TNI Djali Yusuf (sekarang sudah pensiun) berangkat ke lokasi menggunakan helikopter. Keesokan harinya, 23 Januari 2003, barulah dipastikan yang tertembak itu adalah Teungku Abdullah Syafie.
Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami tiba di rumah duka. Kami adalah satu-satunya rombongan tamu di luar warga setempat. Hanya kami bertiga wartawan yang meliput di sana. Selain saya, ada Murizal Hamzah dan Ferdi Nazirun Sijabat dari tabloid mingguan Media Kutaraja. Bersama kami, ikut Adi Laweueng yang kini menjabat juru bicara Partai Aceh. Adi sekaligus berperan sebagai penunjuk jalan.
Saya tidak tahu pasti mengapa tidak ada wartawan lain yang hadir di sana. Namun beredar kabar, wartawan lain menunggu di Matangglumpag Dua. Sebab, sempat beredar kabar jenazah akan dimakamkan di tanah kelahiran Teungku Abdullah Syafie.
Dari luar rumah berdinding papan, lamat-lamat terdengar orang-orang sedang bersalawat, mendaras doa. Berdiri di mulut pintu, saya melihat ada empat jenazah terbaring di sana. Ada aroma amis menyebar. Kemungkinan lantaran jenazah sudah berumur dua hari. Seorang keluarga memberi tahu jenazah tidak dimandikan karena dianggap syahid di medan perang.
Ketika kami tiba dan memperkenalkan diri sebagai wartawan, selubung penutup wajah jenazah terbuka. Terlihatlah wajah Teungku Abdullah Syafie yang bagian rahangnya diikat ke atas. Di sampingnya, ada pula jenazah istri Teungku Lah, Cut Fatimah. Sementara dua lainnya adalah pengikut Abdullah Syafie, yakni Teungku Muhammad Ishak dan Daud Hasyim.
Beberapa wanita terlihat meratap, tak kuasa membendung tangis. Seorang warga memberitahu kami, sebelumnya ada tiga wanita yang pingsan karena syok.
Tokoh masyarakat setempat bersepakat mengubur jenazah Panglima GAM itu malam itu juga. Beberapa orang sedang menyiapkan liang kubur tepat di belakang rumah Teungku Lah.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 03.00 WIB dinihari ketika jenazah diusung untuk dikuburkan. Di bagian depan, seorang lelaki memegang lampu petromaks sebagai penerang jalan. Selebihnya hanya kegelapan.
Keempat jenazah itu dikebumikan dalam satu liang lahat berukuran 3×2 meter.
“Tolong ambil timba, semua air harus dibuang,” ujar seorang lelaki meminta untuk menguras air yang memancar di dalam lubang yang baru saja digali.
“Tanah yang di ujung sana, digali sedikit lagi,” seorang lelaki lain menimpali.
Ketika dirasa sudah cukup kering, satu persatu keranda diturunkan ke liang kubur diiringi lantunan suara azan yang dikumandang seorang lelaki.
Prosesi penguburan berlangsung sederhana tanpa simbol-simbol GAM seperti bendera dan letusan senjata api sebagaimana lazimnya seorang panglima militer. Bahkan dari pengamatan di lapangan tidak ada petinggi GAM yang ikut menghadiri prosesi penguburan.
Menjelang subuh, prosesi penguburan selesai. Kami pun memutuskan rehat dan merebahkan badan di meunasah, tak jauh dari rumah duka.
***
Lahir di Desa Seneubokraya, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Teungku Lah mengenyam pendidikan formal di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan. Dari keluarganya diperoleh informasi Teungku Lah sekolahnya terhenti saat kelas tiga. Selanjutnya Teungku Lah belajar agama di dayah.
Selain petempur, Teungku Lah juga seniman teater. Ia pernah menjalani hidup sebagai pemain teater keliling bersama grup Jeumpa. Profesinya yang lain adalah penjual obat keliling.
“Saya belum pernah menemukan seorang pemimpin yang begitu dekat dan bisa bergaul dengan segala lapisan masyarakat,” ujar seorang pria separuh baya yang namanya tidak mau disebutkan.
Salwa, adik ipar Abdullah Syafi’i, sebelumnya sempat terjadi tarik menarik antara keluarga Abdullah Syafii dengan aparat keamanan. Menurut Salwa, pihak aparat ingin mengantarkan jenazah jenazah tersebut ke kampung asal Abdullah Syafi’i di Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen.
Sedangkan pihak keluarga istrinya menginginkan jenazah dikuburkan di desa Blang Sukon Cubo. “Semasa hidupnya Abang pernah mewasiatkan seandainya dia meninggal di medan perang agar jenazahnya dikuburkan dibelakang rumahnya,” ujar Salwa yang sempat pingsan sambil terisak-isak.
Sebelumnya jenazah Abdullah Syafii bersama istrinya yang sedang hamil enam bulan (calon putra pertama) dan lima orang pengikutnya sempat disemayamkan di RSU Sigli untuk diotopsi. Sekitar pukul 18.30 WIB pihak rumah sakit baru menyerahkan jenazah kepada keluarganya setelah mendapat izin dari Pangkolakops Brigjen TNI Djali Yusuf.
***
Saat itu, tak ada yang tahu bagaimana cerita detail yang menewaskan Teungku Abdullah Syafie. Namun, saat itu, muncul cerita sejumlah anggota TNI mencukur rambut sebagai tanda syukur telah berhasil menewaskan Teungku Lah.
Namun bagi sebagian masyarakat Aceh, meninggalnya Teungku Lah adalah duka nestapa. Maklum, semasa hidupnya Teungku Lah dikenal sebagai sosok yang humanis dan dekat dengan siapa saja. Ia pun tak segan-segan menghukum pasukannya jika ada yang bersikap semena-mena terhadap masyarakat.
Walhasil, Teungku Lah menuai simpati banyak pihak. Ketika kami bertandang ke markas Komando Distrik Militer 0102 Pidie sepulang dari pemakaman Teungku Lah, Dandim Letkol Infanteri Supartodi mengakui kelebihan Teungku Lah. “Beliau orang baik. Tapi karena ideologinya bertentangan, ia harus berhadapan dengan kami,” ujar Supartodi.
Dari Swedia, pimpinan GAM di pengasingan memutuskan mengangkat Muzakir Manaf menggantikan Abdullah Syafie sebagai Panglima GAM. Sebelumnya, Muzakir menjabat Panglima Operasi sekaligus Panglima GAM Wilayah Pasee yang mencakup seluruh Aceh Utara.
Tiga tahun setelah Teungku Lah tertembak, pimpinan GAM memutuskan berdamai dengan Pemerintah Indonesia. Perjanjian damai diteken pada 15 Agustus 2005. GAM menerima otonomi khusus dan membentuk partai lokal dengan nama Partai Aceh.
***
Beberapa tahun setelah Teungku Lah meninggal, barulah salah satu pengikutnya berbicara kepada sebuah media tentang detik-detik pertempuran yang menewaskan Teungku Lah. Pria itu bernama Samsul Bahri alias Gegana. Ia adalah satu dari enam orang pengawal Teungku Lah.
Menurut Gegana, seminggu sebelum Teungku Abdullah Syafie tertembak, mereka mendapat kabar dari anggota TNI bahwa lokasi persembunyian Teungku Lah telah terdeteksi. Lewat adik perempuannya, anggota TNI yang simpati kepada Teungku Lah berpesan agar Teungku Lah menyingkir ke tempat lain.
Mendapat kabar itu, kata Gegana, Teungku Lah meminta pengawalnya untuk pergi menjauh, menyelamatkan nyawa masing-masing. Apalagi, saat itu sedang bulan puasa.
Peu gata sanggop tadeong sajan lon (apa kalian sanggup bertahan bersama saya)?” begitu kata Tengku Lah seperti ditirukan Gegana.
Demi perjuangan, nyawong lon tem bie (demi perjuangan, nyawa saya berikan),” jawab Gegana mengenang.
Menurut Gegana, beberapa hari sebelum pertempuran maut terjadi, Teungku Lah dan pasukannya sudah berhadapan langsung dengan TNI. Gegana ingat benar kejadiannya. Hari itu, sekitar pukul 03.00 dinihari, Teungku Lah bangun memasak nasi untuk sahur. Sementara pasukannya sedang terlelap. Ketika masakan telah siap, barulah Teungku Lah membangunkan pasukannya untuk sahur.
Pukul tujuh pagi, Gegana melihat seekor kucing berlari ke arah kamp mereka. Terdengar pula suara kokok ayam hutan. Firasat Gegana mengatakan ada sesuatu yang tak beres.
Benar saja, lamat-lamat ia mendengar suara orang berbicara,”ada bau ikan asin dan jejak baru.” Belakangan ia tahu, itu adalah percakapan pasukan TNI yang sedang mencari jejak mereka.
Dengan mengendap-endap, Gegana memberitahukan keberadaan mereka kepada Teungku Lah yang kemudian turun untuk mengecek kebenarannya. Sebelumnya, ia menitipkan dua pucuk senjata jenis pistol dan AK-56 kepada Gegana.
Saat itulah Teungku Lah berhadap-hadapan dengan pasukan TNI. Jarak mereka, kata Gegana, hanya sekitar sepuluh langkah. Namun Teungku Lah berhasil lari kembali ke kamp untuk mengambil senjata. Anehnya, kata Gegana, senjata anggota TNI tak meledak. “Itulah kuasa Allah,” katanya.
Saat itu kata Gegana, Teungku Lah sempat bertekad berperang terbuka dengan TNI. “Doeng, kuneuk peu abeh mandum (berhenti, akan saya habisi mereka semua),” kata Teungku Lah.
Namun, Cut Fatimah, istrinya yang dikabarkan sedang hamil, melarang Teungku Lah berperang. “Bek neu meuprang, lon hana sehat (jangan berperang, saya sedang tidak sehat).”
Teungku Lah menuruti permintaan istrinya. Ia pun menghindar. Sementara Gegana dan pasukan pengawal lainnya menghadang langkah TNI dengan melepas tembakan. Itulah pertemuan terakhir Gegana degan Teungku Lah. Mereka kemudian terpencar. Gegana berhasil meloloskan diri.
Kesaksian lain disampaikan oleh Abu Bakar Ubit, alumni GAM Libya yang kemudian menjabat Wakil Ketua DPRK Pidie Jaya. Abu Bakar berkisah, pada 21 Januari 2002, di pegunungan antara Jim-jim dan Cubo, seribuan TNI telah merayap di perbukitan itu. Abu Bakar sendiri saat itu berada di sana, meski tidak persis di samping Tengku Lah.
Setelah menghindar dari pertempuran sebelumnya, kata Abu Bakar, Tengku Lah dan pasukannya tiba di pegunungan Alue Mon, di atas Gampong Cubo. Malam itu mereka bermalam di sana. Kondisi pasukan yang kalah banyak, membuat mereka memilih menghindar.
Pada hari naas itu, 22 Januari 2002, perang besar pecah. “Dari poh lapan beungoh sampoe seupot baro reuda (Dari pukul delapan pagi sampai sore baru reda),” kenang Abu Bakar.
Abu Bakar berhasil lolos setelah berhasil menyelinap di antara dedaunan. Sementara Teungku Lah menghembuskan nafas terakhir dengan sebuah luka tembak di dada. Entah senjata apa yang mendarat di tubuhnya. Yang jelas, dari sebuah foto yang dirilis TNI, ada lubang sebesar kepalan tangan orang dewasa di dada kirinya. “Saya baru tahu Teungku Lah tertembak setelah empat hari kemudian,” kata Abu Bakar.
Pengalaman lain dikisahkan oleh Jalaluddin, salah satu pengawal Teungku Abdullah Syafie. Saat pertempuran terjadi, Jala berada di sampingnya.
Dalam pertempuran pada 22 Januari, sebutir peluru TNI mengoyak kaki Jala, nama panggilan Jalaluddin. Peluru itu, kata dia, berasal dari pasukan TNI dari Ton-2 Kompi Yonif Linud 330 pimpinan Serka I Ketut Muliastra.
Melihat kakinya berdarah-darah, Jala menjerit. Teungku Lah lalu mengeluarkan peluru sambil membubuhkan air liur pada luka kaki Jala. “Bèk moe lé (Jangan menangis lagi),” kata Teungku Lah.
Jala merasakan kondisinya membaik. Ia kembali bertempur, melepas tembakan ke arah pasukan TNI. Aksi Jala terhenti ketika melihat Teungku Lah tertembak. Jala sempat berniat memapahnya. Namun, Teungku Lah melarang.
Bèk. Nyoe ka trôh nyang lôn lakèe, ka troh watèe nyang lôn prèh-prèh (Jangan. Kini sudah tiba waktu yang saya tunggu-tunggu),”
Dalam kondisi sekarat, Teungku Lah memerintahkan Jala segera lari menyelamatkan diri. Jala menolak, ia tidak ingin meninggalkan panglimanya. Teungku Lah kembali memerintahkan Jala untuk kabur. Jala akhirnya menurut.
“Saat lari, Jala menemukan sebuah sumur. Dia masuk ke sumur itu, lalu menutup sumur dengan tumpukan jerami,” kata Puteh binti Abbas,73 tahun, ketika ditemui AtjehPost.Com di Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kamis 1 September 2011.
Cerita Puteh Abbas serupa dengan Nek Teh. Beliau adalah mertua Teungku Lah. Ia mendengar cerita itu langsung dari mulut Jala tak lama setelah kejadian itu. Jala selamat setelah masuk ke sumur, sedangkan Teungku Lah, meninggal di lokasi pertempuran.
“Anak saya, Fatimah (istri Teungku Lah) yang sedang hamil tujuh bulan, bersama para pengawal Teungku Lah juga tertembak dalam kejadian itu, mereka meninggal. Hanya dua orang yang selamat, salah satunya, Jala,” kata Nek Teh.
Usman Basyah, warga Desa Blang Sukon, punya kenangan lain tentang Teungku Lah.
“Suatu waktu, saat Teungku Lah masih hidup, pernah ada yang minta untuk membangun rumah beliau, rumah besar. Tapi beliau menolak,” kata Usman Basyah kepada Irmansyah dari Atjehpost.Com.
Kata Usman, ketika itu Teungku Lah dengan tegas menyatakan, “nye mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”.
Makanya, kata Usman, sampai meninggal, rumah Teungku Lahmasih berkonstruksi alakadar. Jauh dari kesan mewah.
Semasa memimpin perang gerilya, Teungku Lah juga banyak menerima kedatangan pihak-pihak yang membawa uang berlimpah. “Teungku Lah langsung bertanya, uang itu untuk siapa”. Yang membawa uang menjawab, “uang untuk nanggroe”.
Mendengar itu, Teungku Lah menyatakan, “kalau untuk nanggroe (biaya perjuangan GAM) jangan kasih ke saya, serahkan kepada yang berhak pegang uang itu”.
“Begitulah sifat Teungku Lah, beliau tidak mau menerima yang bukan haknya,” kata Usman Basyah.
Dalam pandangan Usman Basyah, Abdullah Syafie betul-betul seorang panglima, pemimpin yang memberi contoh teladan kepada pasukannya. Juga sangat peduli dengan nasib masyarakat miskin, persis seperti yang dulu dicita-citakan untuk membawa Aceh lebih sejahtera.
Setelah 14 tahun berlalu, adakah sifat Teungku Lah itu diwarisi oleh mantan GAM lain setelah sebagian dari mereka kini menjadi pejabat publik di Aceh?[]

Jumat, 22 Januari 2016

Pengakuan Taubatnya Pendeta Yang Membakar 40 Al-Qur’an di Makam Syiah Kuala pada Malam Sebelum Tsunami Aceh 2004

Pengakuan Taubatnya Pendeta Yang Membakar 40 Al-Qur’an di Makam Syiah Kuala pada Malam Sebelum Tsunami Aceh 2004

By: Armia 22 Januari 2016
Ini merupakan rekaman suara Pendeta mantan pimpinan misionaris kristen yang bertaubat.
Pengakuan mantan misionaris kristen untuk wilayah Atjeh
“……malam perayaan natal tahun 2004 kami membakar dua ekor babi d makam syiah kuala, dengan Al-quran sebagai kayu bakarnya…..”
“…..nama atjeh sudah ada d dinding ratapan yahudi d betlehem israel….”
Silahkan simak Rekaman Berikut:

Ini adalah kesaksian dari mantan penginjil dari aliran “ruhul kudus” yang berasal dari Titim ditugaskan ke Aceh. Untuk misi pemurtadan. Pidie merupakan salah satu target utama mereka. Misi mereka juga didukung oleh tokoh Aceh yang saat itu masih berada di luar negri (siapa? wallahualam).
In Sya Allah zulfanafdhilla.com dan AlMuwahhidun Channel beserta Reviim akan membuat suatu video lanjutan membongkar agenda misi kristenisasi Aceh. SEBARKAN!
======
Didalam video rekaman suara tersebut dijelaskan bahwa pesta natal di dekat makam Syiah Kuala tersebut salah satunya adalah untuk membaktis 16 orang asli Aceh untuk masuk agama kristen, dam mereka melakukan pesta miras, dan membakar dua ekor babi dengan kayu bakarnya 40 al-qur’an. berikut ini sekelumit kisah Kemaksiatan yang terjadi di Malam Sebelum Terjadinya Tragedi Tsunami yang di kutip dari eramuslim.com
Sepuluh tahun lalu, ada sesuatu yang aneh terjadi di Banda Aceh. Daerah Istimewa Aceh yang lekat dengan nilai-nilai Islam ini entah bagaimana mulai ikut-ikutan merayakan Natal, 25 Desember. Bukan itu saja, selain merayakan Natal, sejumlah oknum kepolisian setempat juga melangsungkan acara yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Apalagi hal itu dilakukan di dekat Makam Syah Kuala, salah seorang ulama yang sangat dihormati. Syiah Kuala adalah mufti besar Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Sebelum jadi mufti, Syiah Kuala belajar agama secara mendalam di Madinah al-Almunawarah. Gurunya dalam ilmu tasawuf adalah Shafiyuddin Ahmad al-Dajaany al-Qusyasyi. Selain ahli tasawuf, Syiah Kuala juga dikenal sebagai ahli fikih. Dalam ilmu fikih ia mengarang kitab Majmu’ul Masaa-il (Kumpulan Masalah-masalah), yang berisi berbagai persoalan yang muncul di masyarakat Aceh pada masa itu. Ia juga mengarang buku Miratuth Thulaab (Cermin Muka bagi Para Penuntut Ilmu), serta kitab Al Mawaa’zh Al Badii’ah yang berisi tuntutan budi pekerja dan sopan santun keagamaan.
Bagi warga Aceh, nama Syiah Kuala memang memiliki tempat yang sangat istimewa. Syiah Kuala yang bernama asli Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fansyury As Sinkily, adalah ulama yang paling terkenal dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Aceh. Syiah Kuala merupakan ulama Aceh yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kalimat “Rajulu yusaawi uluufa rijaali” (Seorang lelaki yang sama nilainya dengan beribu-ribu lelaki). Kebesaran Syiah Kuala tercermin dalam pepatah orang Aceh “Adat bak Peutu Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala”. Jika adat mengikut kekuasaan Sultan Iskandar Muda, maka syarak (kehidupan beragama) berada di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala.
Ketika meninggal, Syiah Kuala di makamkan di sebuah desa yang terletak di pesisir pantai utara Aceh, hanya berjarak sekitar 200 meter dari garis pantai. Dalam perkembangannya, makam tersebut telah menjadi satu komplek makam keluarga kerajaan Aceh.
Kompleks makam terdiri dari dua bagian. Bagian pertama dan utama terletak di sebelah timur, merupakan tempat makam Syiah Kuala. Di kompleks berbentuk segi empat dan berukuran sekitar 5 x 7 meter persegi itu ada pilar-pilar beton yang menyangga atap. Makam Syiah Kuala sendiri berada di tengahnya, dikelilingi pagar besi berwarna biru. Sementara di pinggir makam terdapat lantai keramik warna merah marun. Sedang kompleks kedua berisi makam istri dan anggota keluarga Syiah Kuala. Di kejauhan, lebih dekat ke arah pantai, tampak berdiri Masjid al-Waqib yang diyakini warga sekitar didirikan oleh Syiah Kuala. Masjid tersebut terletak di kampung Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala.
Sebelum terjadinya bencana, makam Syiah Kuala kerap dikunjungi para peziarah yang datang dari segala penjuru Aceh, bahkan peziarah dari Malaysia, Brunei, Burma, Pakistan, Thailand, dan sekitarnya.  Bagi sebagian peziarah, misal yang datang dari Gayo, mereka meyakini berziarah ke makam Syiah Kuala dan shalat Idul Adha di kompleks makam itu sama nilainya dengan menunaikan Rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. entah apa dalilnya.
Pada tanggal 25 Desember 2004, sebuah tenda besar dipasang di dekat pos polisi yang berdekatan lokasinya dengan komplek pemakaman. Kursi-kursi pun dideretkan. Pesta Natal dan menyambut tahun baru diselenggarakan. Organ tunggal beserta penyanyinya dipanggil. Hingga jauh malam, pesta berlangsung meriah.
“Jika pada hari biasa yang berjaga di situ paling ada tujuh orang polisi, namun pada hari Sabtu (25/12/04), petugas yang ada di situ amat banyak,” ujar Abdul Syukur (bukan nama sebenarnya), warga sekitar makam yang selamat.
Menurut Abdul Syukur yang diamini warga sekitar, para petugas kepolisian itu mabuk-mabukkan dan berjoget. Suara hingar-bingar ditingkahi suara tertawa genit perempuan nakal terdengar hingga ke rumah-rumah penduduk. Semua dilakukan tanpa mengindahkan kesakralan makam ulama besar Syiah Kuala.
Seorang guru ngaji (al-Walid) yang biasa bermalam di komplek makam merasa terketuk nuraninya untuk mengingatkan aparat kepolisian itu agar tidak melakukan hal-hal seperti itu  di dekat makam seorang ulama.
Setelah menguatkan hati dan mengucap Basmallah, orangtua berjubah putih itu menghampiri orang-orang yang tengah berpesta. Tutur katanya yang begitu sopan dan lembut tidak dihiraukan. Orangtua itu malah dihardik dengan kasar dan ditodong senjata api laras panjang.
Dengan hati hancur al-Walid berbalik menuju makam Syiah Kuala. Di depan makam, al-Walid berdoa sembari mengucurkan airmata. Hatinya hancur. Ia tidak punya daya upaya dan kekuatan untuk menghentikan pesta maksiat itu. Dengan penuh perasaan, orangtua itu bahkan sempat mengumandangkan adzan tiga kali di depan makam. Suaranya kalah keras dengan dentuman musik dangdut yang mengiringi pesta maksiat itu.
Setelah adzan, orangtua itu pergi meninggalkan makam. Al-Walid terus berjalan menjauhi makam dan hilang ditelan kegelapan malam.
Pesta terus berlangsung tak kenal tempat dan waktu. Menurut beberapa warga sekitar makam, dalam pesta itu beberapa orang terlihat melepaskan pakaiannya.
Adzan Subuh yang bergema dari Masjid al-Waqib tak mampu menghentikan pesta yang masih meriah. Saat matahari terbit di ufuk timur menerangi bumi Serambi Mekkah, pesta masih terus berlangsung.
Tak lama kemudian tiba-tiba tanah berguncang hebat dalam hitungan beberapa menit. Gempa besar telah terjadi. Orang-orang yang berpesta keluar dari tenda. Ada yang menjerit, ada yang tertawa-tawa, ada pula yang masih asyik berjoget sendiri. Para penduduk sekitar juga berhamburan keluar rumah memenuhi jalan.
Setelah gempa berhenti, tak berapa lama kemudian laut menyurut sampai jauh. Pantai bertambah luas, ikan-ikan sebesar paha orang dewasa mengelepar di atas pasir. Orang-orang yang masih berpesta itu memandang pantai dengan raut muka kebingungan.
Keadaan itu juga tidak berlangsung lama. Tiba-tiba dari arah garis pantai yang jauh masuk ke dalam laut, muncul tembok hitam setinggi tiga kali pohon kelapa. Tembok hitam berhawa panas itu berjalan sangat cepat ke arah daratan. Menyapu dan menggulung semua yang ada dihadapannya. Pesta maksiat itu pun seketika berhenti. Lumat dalam jilatan tsunami.
Jika Fir’aun sempat memohon ampun setelah digulung ombak, maka orang-orang ini tidak punya kesempatan. Mereka mati dalam kesia-siaan. Orang-orang kampung yang tak bersalah ikut terkena bencana.
Setelah air reda, yang tampak sejauh pandangan mata hanya genangan air dan puing-puing rumah, batu, serta pepohonan yang menjadi satu dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. Komplek pemakaman Syiah Kuala rusak. Kompleks utama makam itu benar-benar hancur. Dua batu nisannya hilang. Pusaranya terangkat. Pagar besinya roboh, sebagian malah terjerembap ke dalam tanah.
Di bagian tengah bekas pusara muncul sebuah  lubang, seperti liang lahat. Tiang-tiang beton yang jadi penyangga tudung bertumbangan dan terseret gelombang hingga beberapa meter ke arah barat menjauh pantai.
Menurut cerita warga sekitar yang selamat, saat terjadi tsunami, dari tengah kuburan Syiah Kuala memancar air hitam yang sangat deras ke arah orang-orang yang tengah berpesta. “Jadi orang-orang itu tidak saja dilumat oleh laut, tapi juga dari air hitam yang keluar dari makam ini,” ujar seorang warga. Wallahu’alam.
Seluruh kompleks pemakaman rusak. Di kejauhan hanya tampak Masjid al-Waqib yang masih kokoh berdiri. Ia menjadi saksi bisu dahsyatnya kekuatan alam yang memporakporandakan seluruh Deyah Raya. Masjdi itu kini dikelilingi air laut. “Jika sedang pasang, jalan satu-satunya menuju masjid dipenuhi air laut sampai sepinggang orang dewasa,” ujar Khairuddin, 36, warga setempat.
Rusaknya makam Syiah Kuala dan utuhnya Masjid al-Waqib yang dibangunnya, padahal jaraknya lebih dekat ke pantai, bagi orang Aceh mempunyai makna tersendiri.
Seorang Pengasuh Dayah (Pesantren) di Ulee Titi, Teungku Atta’ilah, menyatakan bahwa hal ini merupakan peringatan dari Allah buat kita semua. “Bila sekarang kompleks makam itu roboh, maka harusnya dapat menjadi bahan renungan. Selama ini memang ada sedikit `anomali’ ketika orang berziarah ke makam tersebut,” ujarnya.
“Lihatlah apa maksud orang berziarah ke sana? Mereka meminta kepada siapa? Itu kan pencemaran terhadap nama besar Syiah Kuala. Syiah Kuala tidak pernah mengajarkan orang meminta kepada kuburan. Manusia itu hanya boleh meminta pada Allah. Apalagi kalau kita lihat tingkah laku pengunjung perempuannya. Mereka tidak perduli dengan adab berpakaian, auratnya tidak ditutup rapat,” tegas Atta’illah.
Seorang tokoh masyarakat Dusun Lambaro, Syaifuddin, mengatakan ikut rusaknya kompleks makam Syiah Kuala hendaknya dapat menjadi pelajaran bahwa betapa jauhnya kepedulian warga Aceh terhadap ajaran agamanya. Di kompleks itu, misalnya, memang sudah berubah jadi tempat wisata.
“Allah telah memperlihatkan kepada kita semua. Makam Syiah Kuala yang selama ini sering disalahgunakan, sebagai tempat memohon sesuatu, telah hancur. Sedangkan Masjid al-Waqib yang juga didirikan oleh Syiah Kuala dan masih sesuai dengan fungsinya sebagai tempat ibadah, masih utuh berdiri. Ini tanda dari Allah yang demikian jelas,” tegas Muhammad Ichsan, 46, warga Krueng Raya yang dua pekan setelah musibah baru sempat berkunjung ke Syiah Kuala. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/10-tahun-tsunami-aceh-berbagai-ibrah-dan-keajaiban-1.htm

fakta ka'bah yang dirahasiakan

fakta ka'bah yang dirahasiakan

22 Januari 2016 By Armia

Ka’bah, rumah Allah sejuta ummat muslim merindukan berkunjung dan menjadi tamu - tamu Allah sang maha pencipta. Kiblatnya (arah) ummat muslim dalam melaksanakan sholat, dari negara manapun semua ibadah sholat menghadap ke kiblat ini.
kaba-interior-wp-pd
Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi. 
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

neil amstrong
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.” 
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut. 
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. 
Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat. 
Makkah Pusat Bumi 
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

kiblat
Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang. 
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

makkah
Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978). 
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan. 
Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.


Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat. 
Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut: 
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7) 
Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.


Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain. 
Makkah atau Greenwich 
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.


Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

shalat
Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)
Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.
Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.
Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi).

Misteri Penemuan Besar Yang Sengaja Di Rahasiakan

Misteri Penemuan Besar Yang Sengaja Di Rahasiakan
22 Januari 2016 By Armia

Matahari adalah pusat galaxy dan bumi bukanlah pusat tata surya! Dua statement dari Galileo ini sempat menjadi kontroversi pada zamannya karna pihak otoritas saat itu menganggap bahwa pernyataan tersebut adalah sesat. Kehidupan sang ilmuwan pun digerogoti dengan ketidak-tenangan akibat desakan dari pihak otoritas agar merubah pemahamannya agar sejalan dengan mereka. Kisah tersebut menjadi salah satu 'sejarah kelam dunia', dimana para ilmuwan yang notabenenya memiliki pengetahuan yang setidaknya lebih maju dan juga bersifat mempermudah kehidupan manusia 'pada umumnya' harus terbentur konspirasi dengan pihak otoritas yang secara samar - samar mencoba menutup mata kita semua terhadap semua hal tersebut.


Kisah - kisah dibawah ini lebih pada menceritakan tentang para penemu - penemu yang tidak sempat terkenal, dimana memiliki mesin - mesin keren ciptakan mereka sendiri yang notabenenya bersifat untuk (lebih) menghemat umat manusia dalam mengkonsumsi bahan bakar terutama penggunaan Minyak.
Mesin Misterius Yang Bisa Bertahan Sejauh 300 Mil(sekitar 480an Km)Hanya Dengan Satu Galon Minyak !?

Wow!! Amazing!! Incredibles!! atau mungkin Unbelieveble!! (kalo Orang Manado mungkin mereka akan mengatakan.. "Oda, pe wonta...XD"). Yeah, mungkin kata - kata tersebut akan muncul dari mulut kalian apabila melihat judul artikel ini, namun sekitaran 1922 kisah ini sempat menyeruak ke permukaan lewat Popular Science pada tahun tersebut. Adalah seorang Harry H. Elmer yang berasal dari Syracuse, New York, yang konon telah mengembangkan sebuah mesin minyak mentah untuk digunakan pada mobil, pesawat terbang, kapal laut dan sistem penerangan. Mesin tersebut diyakini telah mampu menghasilkan tenaga yang cukup untuk menghidupkan baterai dari 18 bola lampu pijar dan menyala selama 18 jam tanpa henti dengan menggunakan minyak 0,71 liter, seharga kurang dari satu sen. Mungkin sekali lagi kita bisa berdiri dan katakan...Wow!!. Namun seperti judul tulisan saya kali ini, Kemana penemuan hebat orang ini? Kenapa kita tidak bisa menggunakannya sekarang sehingga kita tidak perlu lagi mengeluh dengan masalah kenaikan harga BBM, karna pada notabenenya kekuatan mesin tersebut mampu menghemat hingga 10 kali lipat tenaga motor saat ini? Harry H. Elmer, siapa dia? kenapa kita tidak mempelajarinya disekolah seperti para penemu terkenal semisal James Watt atau Alex Bell?

Tidak banyak info mengenai orang ini didunia maya.


Motor Misterius Dengan Tenaga Atmosfer

30 tahun setelah kisah Mesin hebat nan hemat buatan Harry H. Elmer, Popular Science kembali mencatat sebuah 'penemuan besar' oleh seorang Kolonel Angkatan Laut, yaitu Ivan Monk. Dipercaya alat tersebut berbentuk sebuah bola yang berputar tanpa sumber tenaga yang jelas.
Sebenarnya, alat tersebut adalah sebuah mesin panas berputar yang digerakkan oleh perbedaan temperatur antara bagian - bagiannya. Roda itu berada pada suhu ruangan; sebuah poros yang diselimuti dengan kain, tetap dilembabkan dengan air, didinginkan dengan penguapan. Cairan dengan titik didih rendah, Freon, bersirkulasi diantara roda dan pusat, menguap pada roda dan terkondensasi pada pusat. Katup - katup menjaga berat cairan yang tidak sama pada sisi yang berlawanan dan selanjutnya barulah Gravitasi yang memainkan peranan untuk membalikkannya. Semoga anda semua mengerti dengan penjelasan yang lumayan rumit tersebut, karna saya juga agak kurang paham...
Sama seperti kisah sebelumnya, informasi mengenai mesin aneh milik Letnan Monk tersebut juga kurang banyak di internet.


Bahan Bakar Air - Kisah Penyerangan Para Penemunya

Dylan Whitford, pemuda berumur 18 tahun ditemukan tidak sadarkan diri di Wanganui, New Zealand. Yeah, seperti itulah kisah yang pernah diangkat oleh New Zealand Press Association dimana kejadian tersebut menjadi sebuah kontroversi karna Dylan adalah seorang ilmuwan muda saat itu yang konon tengah mengembangkan sebuah mesin yang bisa dijalankan dengan menggunakan bahan bakar air.
Sedikit berbeda dengan kedua kisah diatas, cerita mengenai penemuan tersebut dibarengi dengan issue teror oleh pihak misterius ang seakan tidak setuju dengan keberadaan mesin tersebut (juga penemunya).
Menurut penyelidikan polisi saat itu, masih menjadi misteri apakah Dylan sengaja diserang atau tidak.

Telepon Misterius
Dalam pernyataan seorang jurnalis surat kabar komunitas Wanganui yang bernama Barrie Mitchell-Anyon (beliau sempat mewawancarai Dylan tentang perkembangan mesinnya, beberapa hari sebelum kejadian), bahwa beberapa hari setelah artikelnya (wawancara dengan Dylan) dipublikasikan, dia sempat menerima telepon dari orang misterius yang menceritakan bahwa beberapa orang di Wanganui sudah tidak asing lagi dengan mesin berbahan bakar air, namun mereka takut untuk menggembar - gemborkan peristiwa tersebut kepada khalayak luas. Orang misterius tersebut juga menceritakan ada seorang bernama Neson, yang mati secara misterius akibat mengetahui tentang keberadaan mesin tersebut.


Mobil Berbahan Bakar Air "Terjual Seharga 25,6 Juta Dolar"

Lain Dylan Whitford, lain pula kisah M. Malcolm Vincent, meskipun masih tetap sama - sama asal Nganjuk, eits... sorry maksud saya New Zealand. Kali ini sang ilmuwan telah mematenkan temuannya kepada klub Roma, melalui perwakilannya di Melbourne.
"Mereka membayarku sebesar 600.000 Dolar Selandia Baru (DP mungkin) lalu 1 Juta Dolar Selandia Baru per-tahun selama jangka waktu 25 tahun (makanya ditotalin 25,6 Juta...:p)," ujar Vincent dalam sebuah kesempatan.
Sebelum surat kabar The Sunday News terbitan Auckland memberitakan hal tersebut, ada beberapa laporan yang menyatakan bahwa Vincent club 80's....
@#@***)()...
maaf maksud saya si Malcolm Vincent telah berhasl menyempurnakan mesin bertenaga air ciptaannya, namun selain dari laporan televisi yang menampilkan mobilnya melaju menuruni bukit, laporan mengenai hal tersebut masih sulit untuk dibenarkan. Setelah televisi menyiarkan hasil penemuannya, konon pemerintah New Zealand telah mengirimkan insinyur - insinyur mobil dari kementrian bidang transportasi untuk menilai penemuan tersebut.

"Tidak Ada Kesempatan Melihatnya"
Itulah ungkap kepala teknik otomotif, F. D. McWha.
"Dia belum mengungkapkan kepada kita prinsip kerja mesin buatannya dan tidak membutuhkan bantuan apapun." tambah McWha.
McWha menyatakan mengerti terhadap sikap dari Vincent karna dia merasa bahwa sang kreator takut hasil karyanya ditiru atau bahkan dicuri oleh orang lain makanya dia sedikit merahasiakan detil dari mesinnya.
Pada saat percobaan didaerah Nelson di South Island, Vincent berkata pada surat kabar bahwa, "Perjalanan terbaik kami dengan mesin ini sejauh ini yaitu didaerah Holden. Kami mengendarai mobil sejauh 150 mil disekeliling daerah Nelson."
Menurut dia pula, dua pabrik akan disiapkan oleh kelompok Roma; satu di Australia dan yang satunya lagi terletak di Selandia Baru. hmmm...so sweet... i likes happy Ending
Oh iya, sorry lupa, sekedar Informasi kalau Vincent meninggal secara misterius ditahun 1989.

Itulah beberapa kisah penemuan yang 'cukup besar' meskipun sebenarnya tidak sebesar penemuan Tesla atau Archie Blue namun saya rasa hal - hal tersebut bisa menggambarkan betapa selama ini penemuan - penemuan yang sebenarnya mampu sedikit meringankan kehidupan umat manusia di Dunia telah disembunyikan dan tidak bisa untuk dipublikasikan secara umum dan dirasakan manfaatnya secara bersama - sama.


Indonesia-pun Punya Hal "Semacam Itu"
 
Joko Suprapto, ada yang merasa pernah mendengar nama ini?? Pria asal Nganjuk ini sempat menggegerkan dunia science Indonesia pada khususnya dan Negara Indonesia pada umumnya. Bagaimana tidak, rancangannya tentang mesin berbahan bakar air laut (konon bisa juga air tanah) sempat membawa asa sekitaran 200an juta penduduk Indonesia dalam hal penghematan BBM dan sekaligus sekaligus mengurangi efek Global Climate Change yang terus didengungkan dunia saat itu. Pak Joko dan timnya dalam acara PBB tentang Perubahan Iklim Dunia datang dengan Dua Ford Ranger 2500 CC, satu Isuzu Panther 2500 CC Diesel, satu Mazda Familia 1800 CC dan satu Bus Mitsubishi 4000 CC sempat membuat kagum Pak SBY (Presiden RI), sampai - sampai beliau membuat bingung para PasPamPres (Pasukan Pengamanan Presiden) karna ingin mencoba mencium asap dari knalpot kendaraan berbahan bakar air milik pak Joko tersebut. Bahkan Presiden sempat menyatakan keinginannya untuk membiayai penelitian pak Joko dengan biaya pribadi pak SBY.

Sama dengan kisah sebelumnya, Ini Juga Menjadi Misteri

Layaknya mengikuti ajang pencarian bakat instan yang lagi nge-trend di Indonesia sekarang ini, ketenaran Joko Suprapto-pun hilang dengan sekejap (juga bisa diartikan sebagai "hilang" yang sebenarnya). Ya, setelah begitu menggebu - gebu dalam penyampaiannya tentang penemuan hebatnya tersebut, sang ilmuwanpun akhirnya hilang secara misterius. Banyak spekulasi cerita tentang hilangnya beliau, dimulai dari berita bahwa beliau di "simpan" oleh pak SBY hingga kabar bahwa pak Joko diculik oleh Alien (yang terakhir karangan sendiri dan 99,9 persen bo'ong).
Namun, nampaknya permainan yang dimainkan oleh "mereka" telah berhasil membuat kita khususnya orang awam di Indonesia melupakan salah satu jalan kita untuk menghemat entah itu uang kita maupun emisi gas yang menyebabkan Global Climate Change. Apa yang terjadi disini? Tidak bisakah kita rakyat Indonesia menerima hal baik tersebut? Konspirasikah? hmmm... terlalu banyak pertanyaan yang saya ajukan, namun tetap saja saya hanyalah orang biasa yang tidak punya bukti kuat untuk berargumen lebih tentang keganjilan misteri tersebut.

5 Tokoh yang Menipu dalam Sejarah Dunia

5 Tokoh yang Menipu dalam Sejarah Dunia


Kematian tokoh dan sosok yang dikenal orang banyak adalah sebuah kehilangan, terlebih sosok tersebut menghilang, tewas, secara misterius. Namun dibalik peristiwa tersebut, memberikan kesempatan terhadap mereka yang terobsesi untuk menjadi sosok tokoh, seperti yang tercatat dalam daftar berikut yang dikutip dari unikgaul.com:

1. Grigory Otrpyev

Ia adalah seorang penipu nomor satu yang tercatat dalam sejarah, bagaimana tidak ia mengaku sebagai anak bungsu dari Ivan IV Vasilyevich, Dimitriy Ioannovich, selama 21 Juli 1605 hingga kematiannya pada 17 Mei 1606.
Namun kemudian publik lebih percaya bahwa Dimitriy sebenarnya telah terbunuh di Kota Uglich, dan Dimitriy palsu ini bernama Grigory Otrpyev. Penipu ini mengaku bahwa ibunya adalah istri dari Tsar Ivan, telah mengantisipasi pembunuhan tersebut dan mengirimnya ke sebuah kuil untuk bersembunyi.
Sejumlah orang Rusia yang mengenal Tsar Ivan kemudian mengklaim bahwa memang Dimitriy muda menyerupai tsaveris muda. Dimitriy digambarkan memiliki kemampuan aristokrasi pada umumnya, berkuda, berilmu pengetahuan dan berbicara baik bahasa Rusia maupun Polandia. Sejumlah pengikutnya adalah orang-orang terhormat mereka mendukung untuk melawan Tsar Gugonov.
Ketika Tsar Gugonov mati mendadak, pasukan Rusia berpihak kepadanya (Dimitriy), pada 1 Juni, pengikutnya memenjarakan raja yang baru dimahkotai, Feodor II dan ibu yang kemudian mereka dibunuh. Grigory kemudian mengangkan dirinya menjadi Tsar. Namun dikarenakan beredar rumor bahwa Grigory akan merubah Rusia menjadi sebuah negara katolik, ia pun mati ditembak mati.

2. Claude des Armoises

Beberapa penipu mengaku menjadi Joan of Arc, setelah kematiannya pada tahun 1431. Salah satu yang cukup sukses adalah Claude des Armoises, yang merupakan istri dari seorang ksatria, Robert des Armoises. Pada tahun 1436 ia mengklaim dirinya sebagai Jean of Arc, terlebih didukung oleh saudara-saudaranya Joan.
Dia melakukan sebuah sandiwara dan memerankan Joan hingga tahun 1436, mendapatkan berbagai hadiah dan subsidi. Sebuah catatan sejarah menyatakan, “di tahun ini telah datang seorang perempuan muda, ia gadis dari Prancis, dan memainkan peranannya dengan baik sehingga banyak orang tertipu olehnya, khususnya para bangsawan” beberapa penulis modern mengulas kembali teks ini, dan menyatakan bahwa ada seseorang yang menggantikan Joan of Arc saat ia dieksekusi. Namun perkiraan ini sangat dangkal, dengan dinulifikasikan para saksi yang menghadiri eksekusi Joan of Arc.

3. Pseudo-Nero (Nero Palsu)

Setelah sang Kaisar Nero melakukan bunuh diri di sebuah desa para budak di Pahon, pada Juni 68 M. Setelah peristiwa tersebut banyak bermunculan Nero-nero palsu antara musim gugur tahun 69 M hingga pemerintahan Kaisar Domitian. Nero palsu yang pertama muncul di musim gugur atau di awal musim dingin tahun 69 M, Provinsi Achaia, sekarang dikenal dengan Yunani.
Nero memang beberapa kali pernah mengunjungi Yunani pada (66-67M) untuk berpartisioasi dalam sebuah acara permainan Panhellenik, dan inilah yang mungkin dijadikan sebagai bukti yang memperkuat penipuannya. Dan bahkan menurut peneliti sejarah penipu tersebut adalah seorang budak dari kota Pontus, ataupun budak dari Itali. Tidak banyak yang bisa diketahui sejarah hidup Nero palsu ini, dan hanya menyatakan bahwa Nero palsu mendekatinya bersama pasukan pembelotnya. Lalu mereka pergi ke laut, tempat ia memyatakan dirinya sebagai seorang Nero. Namun ia akhirnya ditangkap dan dipenggal.

4. Margaret Palsu

Margaret Palsu (1260-1301), seorag perempuan berkebangsaan Norwegia yang menyerupai Margaret, Gadis dari Norway. Margaret yang sebenarnya meninggal 1290, di Orkney, dan sang ayang Raja Eirik II dari Norwegia meninggal di tahun 1299, yang dilakukan oleh adiknya sendiri, Hakon V. pada saat yang bersamaan datanglah seorang perempuan di Bergen, Norway, turun dari kapal yang berlayar dari Lübeck, Jerman.
Ia mengklaim dirinya sebagai Margaret, dan menyangkal segala sangkaan publik terhadap kematiannya. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak mati di Orkney, namun dikirimkan ke Jerman, tempat ia menikah. Beberapa orang di Kota dan termasuk agamawan mendukung pengakuannya, walaupun Raja Eirik mengidentifikasi mayat putrinya, dan walaupun perempuan tersebut nampak seperti berusia 40 tahun, padahal Margaret yang sebenarnya akan berusia 17 tahun. Margaret palsu serta suaminya kemudian terbukti melakukan sebuah penipuan, sebagai sang suami dipengggal dan Margaret palsu dibakar.

5. Raictor

Raictor adalah pendeta Ortodoks Timur yang berpura-pura sebagai Kaisar Michael VII, dari Kekaisaran Byzantin, dan berpartisipasi dalam misi Normandia yang dipimpin oleh Robert Guiscard untuk menghancurkan Kekaisaran Byzantin, yang saat itu dalam keadaan kacau.
Alexios I Komenos dijatuhkan oleh Nikephoros III Botaneiates dan juga diserang oleh sebuah invasi bangsa Balkan pimpinan Robert Guiscard, Duke of Apulia. Guiscard memanfaatkan kejatuhan Michael VII oleh Nikephoros III pada tahun 1078. Guiscard pun mengetahui bahwa Raictor bukanlah siapa-siapa, sehingga ia memanfaatkannya. Namun ketika Robert Guiscard merasa cukup puas atas apa yang didapatnya, Raictor pun disingkirkan secara perlahan-lahan.