23/01/16 oleh Armia
Pertempuran Terakhir Panglima GAM Abdullah Syafie
HARI sudah gelap ketika mobil yang kami tumpangi memasuki
Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya.
Terletak di kawasan perbukitan, desa ini berjarak sekitar 10 kilometer
arah selatan Luengputu, atau 35 kilometer dari Sigli, ibukota Kabupaten
Pidie. Beberapa kali kami harus turun dari mobil karena bertemu jembatan
kayu yang telah bolong-bolong. Bahaya betul kondisinya.
Hari itu, 23 Januari 2002. Berangkat dari Banda Aceh, kami menuju ke
sana setelah mendapat kepastian jenazah Panglima GAM Teungku Abdullah
Syafie akan dimakamkan di desa itu. Sebelumnya, sempat beredar kabar
jenazah akan dimakamkan di kampung halamannya di Matangglumpang Dua,
Bireuen.
Teungku Abdullah Syafie meninggal setelah tertembak dalam sebuah
pertempuran di hutan Jim-jim, Pidie Jaya, 22 Januari 2002. Namun,
jenazahnya tak langsung dievakuasi. Untuk memastikan yang tertembak
adalah orang nomor satu dalam tubuh militer GAM, Panglima Komando
Operasi Pemulihan Keamanan Brigjen TNI Djali Yusuf (sekarang sudah
pensiun) berangkat ke lokasi menggunakan helikopter. Keesokan harinya,
23 Januari 2003, barulah dipastikan yang tertembak itu adalah Teungku
Abdullah Syafie.
Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami tiba di rumah duka. Kami
adalah satu-satunya rombongan tamu di luar warga setempat. Hanya kami
bertiga wartawan yang meliput di sana. Selain saya, ada Murizal Hamzah
dan Ferdi Nazirun Sijabat dari tabloid mingguan Media Kutaraja. Bersama
kami, ikut Adi Laweueng yang kini menjabat juru bicara Partai Aceh. Adi
sekaligus berperan sebagai penunjuk jalan.
Saya tidak tahu pasti mengapa tidak ada wartawan lain yang hadir di
sana. Namun beredar kabar, wartawan lain menunggu di Matangglumpag Dua.
Sebab, sempat beredar kabar jenazah akan dimakamkan di tanah kelahiran
Teungku Abdullah Syafie.
Dari luar rumah berdinding papan, lamat-lamat terdengar orang-orang
sedang bersalawat, mendaras doa. Berdiri di mulut pintu, saya melihat
ada empat jenazah terbaring di sana. Ada aroma amis menyebar.
Kemungkinan lantaran jenazah sudah berumur dua hari. Seorang keluarga
memberi tahu jenazah tidak dimandikan karena dianggap syahid di medan
perang.
Ketika kami tiba dan memperkenalkan diri sebagai wartawan, selubung
penutup wajah jenazah terbuka. Terlihatlah wajah Teungku Abdullah Syafie
yang bagian rahangnya diikat ke atas. Di sampingnya, ada pula jenazah
istri Teungku Lah, Cut Fatimah. Sementara dua lainnya adalah pengikut
Abdullah Syafie, yakni Teungku Muhammad Ishak dan Daud Hasyim.
Beberapa wanita terlihat meratap, tak kuasa membendung tangis.
Seorang warga memberitahu kami, sebelumnya ada tiga wanita yang pingsan
karena syok.
Tokoh masyarakat setempat bersepakat mengubur jenazah Panglima GAM
itu malam itu juga. Beberapa orang sedang menyiapkan liang kubur tepat
di belakang rumah Teungku Lah.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 03.00 WIB dinihari ketika jenazah
diusung untuk dikuburkan. Di bagian depan, seorang lelaki memegang lampu
petromaks sebagai penerang jalan. Selebihnya hanya kegelapan.
Keempat jenazah itu dikebumikan dalam satu liang lahat berukuran 3×2 meter.
“Tolong ambil timba, semua air harus dibuang,” ujar seorang lelaki
meminta untuk menguras air yang memancar di dalam lubang yang baru saja
digali.
“Tanah yang di ujung sana, digali sedikit lagi,” seorang lelaki lain menimpali.
Ketika dirasa sudah cukup kering, satu persatu keranda diturunkan ke
liang kubur diiringi lantunan suara azan yang dikumandang seorang
lelaki.
Prosesi penguburan berlangsung sederhana tanpa simbol-simbol GAM
seperti bendera dan letusan senjata api sebagaimana lazimnya seorang
panglima militer. Bahkan dari pengamatan di lapangan tidak ada petinggi
GAM yang ikut menghadiri prosesi penguburan.
Menjelang subuh, prosesi penguburan selesai. Kami pun memutuskan
rehat dan merebahkan badan di meunasah, tak jauh dari rumah duka.
***
Lahir di Desa Seneubokraya, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Teungku Lah
mengenyam pendidikan formal di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan. Dari
keluarganya diperoleh informasi Teungku Lah sekolahnya terhenti saat
kelas tiga. Selanjutnya Teungku Lah belajar agama di dayah.
Selain petempur, Teungku Lah juga seniman teater. Ia pernah menjalani
hidup sebagai pemain teater keliling bersama grup Jeumpa. Profesinya
yang lain adalah penjual obat keliling.
“Saya belum pernah menemukan seorang pemimpin yang begitu dekat dan
bisa bergaul dengan segala lapisan masyarakat,” ujar seorang pria
separuh baya yang namanya tidak mau disebutkan.
Salwa, adik ipar Abdullah Syafi’i, sebelumnya sempat terjadi tarik
menarik antara keluarga Abdullah Syafii dengan aparat keamanan. Menurut
Salwa, pihak aparat ingin mengantarkan jenazah jenazah tersebut ke
kampung asal Abdullah Syafi’i di Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen.
Sedangkan pihak keluarga istrinya menginginkan jenazah dikuburkan di
desa Blang Sukon Cubo. “Semasa hidupnya Abang pernah mewasiatkan
seandainya dia meninggal di medan perang agar jenazahnya dikuburkan
dibelakang rumahnya,” ujar Salwa yang sempat pingsan sambil
terisak-isak.
Sebelumnya jenazah Abdullah Syafii bersama istrinya yang sedang hamil
enam bulan (calon putra pertama) dan lima orang pengikutnya sempat
disemayamkan di RSU Sigli untuk diotopsi. Sekitar pukul 18.30 WIB pihak
rumah sakit baru menyerahkan jenazah kepada keluarganya setelah mendapat
izin dari Pangkolakops Brigjen TNI Djali Yusuf.
***
Saat itu, tak ada yang tahu bagaimana cerita detail yang menewaskan
Teungku Abdullah Syafie. Namun, saat itu, muncul cerita sejumlah anggota
TNI mencukur rambut sebagai tanda syukur telah berhasil menewaskan
Teungku Lah.
Namun bagi sebagian masyarakat Aceh, meninggalnya Teungku Lah adalah
duka nestapa. Maklum, semasa hidupnya Teungku Lah dikenal sebagai sosok
yang humanis dan dekat dengan siapa saja. Ia pun tak segan-segan
menghukum pasukannya jika ada yang bersikap semena-mena terhadap
masyarakat.
Walhasil, Teungku Lah menuai simpati banyak pihak. Ketika kami
bertandang ke markas Komando Distrik Militer 0102 Pidie sepulang dari
pemakaman Teungku Lah, Dandim Letkol Infanteri Supartodi mengakui
kelebihan Teungku Lah. “Beliau orang baik. Tapi karena ideologinya
bertentangan, ia harus berhadapan dengan kami,” ujar Supartodi.
Dari Swedia, pimpinan GAM di pengasingan memutuskan mengangkat
Muzakir Manaf menggantikan Abdullah Syafie sebagai Panglima GAM.
Sebelumnya, Muzakir menjabat Panglima Operasi sekaligus Panglima GAM
Wilayah Pasee yang mencakup seluruh Aceh Utara.
Tiga tahun setelah Teungku Lah tertembak, pimpinan GAM memutuskan
berdamai dengan Pemerintah Indonesia. Perjanjian damai diteken pada 15
Agustus 2005. GAM menerima otonomi khusus dan membentuk partai lokal
dengan nama Partai Aceh.
***
Beberapa tahun setelah Teungku Lah meninggal, barulah salah satu
pengikutnya berbicara kepada sebuah media tentang detik-detik
pertempuran yang menewaskan Teungku Lah. Pria itu bernama Samsul Bahri
alias Gegana. Ia adalah satu dari enam orang pengawal Teungku Lah.
Menurut Gegana, seminggu sebelum Teungku Abdullah Syafie tertembak,
mereka mendapat kabar dari anggota TNI bahwa lokasi persembunyian
Teungku Lah telah terdeteksi. Lewat adik perempuannya, anggota TNI yang
simpati kepada Teungku Lah berpesan agar Teungku Lah menyingkir ke
tempat lain.
Mendapat kabar itu, kata Gegana, Teungku Lah meminta pengawalnya
untuk pergi menjauh, menyelamatkan nyawa masing-masing. Apalagi, saat
itu sedang bulan puasa.
“Peu gata sanggop tadeong sajan lon (apa kalian sanggup bertahan bersama saya)?” begitu kata Tengku Lah seperti ditirukan Gegana.
“Demi perjuangan, nyawong lon tem bie (demi perjuangan, nyawa saya berikan),” jawab Gegana mengenang.
Menurut Gegana, beberapa hari sebelum pertempuran maut terjadi,
Teungku Lah dan pasukannya sudah berhadapan langsung dengan TNI. Gegana
ingat benar kejadiannya. Hari itu, sekitar pukul 03.00 dinihari, Teungku
Lah bangun memasak nasi untuk sahur. Sementara pasukannya sedang
terlelap. Ketika masakan telah siap, barulah Teungku Lah membangunkan
pasukannya untuk sahur.
Pukul tujuh pagi, Gegana melihat seekor kucing berlari ke arah kamp
mereka. Terdengar pula suara kokok ayam hutan. Firasat Gegana mengatakan
ada sesuatu yang tak beres.
Benar saja, lamat-lamat ia mendengar suara orang berbicara,”ada bau
ikan asin dan jejak baru.” Belakangan ia tahu, itu adalah percakapan
pasukan TNI yang sedang mencari jejak mereka.
Dengan mengendap-endap, Gegana memberitahukan keberadaan mereka
kepada Teungku Lah yang kemudian turun untuk mengecek kebenarannya.
Sebelumnya, ia menitipkan dua pucuk senjata jenis pistol dan AK-56
kepada Gegana.
Saat itulah Teungku Lah berhadap-hadapan dengan pasukan TNI. Jarak
mereka, kata Gegana, hanya sekitar sepuluh langkah. Namun Teungku Lah
berhasil lari kembali ke kamp untuk mengambil senjata. Anehnya, kata
Gegana, senjata anggota TNI tak meledak. “Itulah kuasa Allah,” katanya.
Saat itu kata Gegana, Teungku Lah sempat bertekad berperang terbuka
dengan TNI. “Doeng, kuneuk peu abeh mandum (berhenti, akan saya habisi
mereka semua),” kata Teungku Lah.
Namun, Cut Fatimah, istrinya yang dikabarkan sedang hamil, melarang Teungku Lah berperang. “Bek neu meuprang, lon hana sehat (jangan berperang, saya sedang tidak sehat).”
Teungku Lah menuruti permintaan istrinya. Ia pun menghindar.
Sementara Gegana dan pasukan pengawal lainnya menghadang langkah TNI
dengan melepas tembakan. Itulah pertemuan terakhir Gegana degan Teungku
Lah. Mereka kemudian terpencar. Gegana berhasil meloloskan diri.
Kesaksian lain disampaikan oleh Abu Bakar Ubit, alumni GAM Libya yang
kemudian menjabat Wakil Ketua DPRK Pidie Jaya. Abu Bakar berkisah, pada
21 Januari 2002, di pegunungan antara Jim-jim dan Cubo, seribuan TNI
telah merayap di perbukitan itu. Abu Bakar sendiri saat itu berada di
sana, meski tidak persis di samping Tengku Lah.
Setelah menghindar dari pertempuran sebelumnya, kata Abu Bakar,
Tengku Lah dan pasukannya tiba di pegunungan Alue Mon, di atas Gampong
Cubo. Malam itu mereka bermalam di sana. Kondisi pasukan yang kalah
banyak, membuat mereka memilih menghindar.
Pada hari naas itu, 22 Januari 2002, perang besar pecah. “Dari poh lapan beungoh sampoe seupot baro reuda (Dari pukul delapan pagi sampai sore baru reda),” kenang Abu Bakar.
Abu Bakar berhasil lolos setelah berhasil menyelinap di antara
dedaunan. Sementara Teungku Lah menghembuskan nafas terakhir dengan
sebuah luka tembak di dada. Entah senjata apa yang mendarat di tubuhnya.
Yang jelas, dari sebuah foto yang dirilis TNI, ada lubang sebesar
kepalan tangan orang dewasa di dada kirinya. “Saya baru tahu Teungku Lah
tertembak setelah empat hari kemudian,” kata Abu Bakar.
Pengalaman lain dikisahkan oleh Jalaluddin, salah satu pengawal
Teungku Abdullah Syafie. Saat pertempuran terjadi, Jala berada di
sampingnya.
Dalam pertempuran pada 22 Januari, sebutir peluru TNI mengoyak kaki
Jala, nama panggilan Jalaluddin. Peluru itu, kata dia, berasal dari
pasukan TNI dari Ton-2 Kompi Yonif Linud 330 pimpinan Serka I Ketut
Muliastra.
Melihat kakinya berdarah-darah, Jala menjerit. Teungku Lah lalu
mengeluarkan peluru sambil membubuhkan air liur pada luka kaki Jala.
“Bèk moe lé (Jangan menangis lagi),” kata Teungku Lah.
Jala merasakan kondisinya membaik. Ia kembali bertempur, melepas
tembakan ke arah pasukan TNI. Aksi Jala terhenti ketika melihat Teungku
Lah tertembak. Jala sempat berniat memapahnya. Namun, Teungku Lah
melarang.
“Bèk. Nyoe ka trôh nyang lôn lakèe, ka troh watèe nyang lôn prèh-prèh (Jangan. Kini sudah tiba waktu yang saya tunggu-tunggu),”
Dalam kondisi sekarat, Teungku Lah memerintahkan Jala segera lari
menyelamatkan diri. Jala menolak, ia tidak ingin meninggalkan
panglimanya. Teungku Lah kembali memerintahkan Jala untuk kabur. Jala
akhirnya menurut.
“Saat lari, Jala menemukan sebuah sumur. Dia masuk ke sumur itu, lalu
menutup sumur dengan tumpukan jerami,” kata Puteh binti Abbas,73 tahun,
ketika ditemui AtjehPost.Com di Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kamis 1 September 2011.
Cerita Puteh Abbas serupa dengan Nek Teh. Beliau adalah mertua
Teungku Lah. Ia mendengar cerita itu langsung dari mulut Jala tak lama
setelah kejadian itu. Jala selamat setelah masuk ke sumur, sedangkan
Teungku Lah, meninggal di lokasi pertempuran.
“Anak saya, Fatimah (istri Teungku Lah) yang sedang hamil tujuh
bulan, bersama para pengawal Teungku Lah juga tertembak dalam kejadian
itu, mereka meninggal. Hanya dua orang yang selamat, salah satunya,
Jala,” kata Nek Teh.
Usman Basyah, warga Desa Blang Sukon, punya kenangan lain tentang Teungku Lah.
“Suatu waktu, saat Teungku Lah masih hidup, pernah ada yang minta
untuk membangun rumah beliau, rumah besar. Tapi beliau menolak,” kata
Usman Basyah kepada Irmansyah dari Atjehpost.Com.
Kata Usman, ketika itu Teungku Lah dengan tegas menyatakan, “nye mantong na rumoh ureung gampong nyang hana layak tinggai, bek peugot rumoh meugah keu lon (kalau masih ada rumah warga desa yang tidak layak huni, jangan bangun rumah megah untuk saya)”.
Makanya, kata Usman, sampai meninggal, rumah Teungku Lahmasih berkonstruksi alakadar. Jauh dari kesan mewah.
Semasa memimpin perang gerilya, Teungku Lah juga banyak menerima
kedatangan pihak-pihak yang membawa uang berlimpah. “Teungku Lah
langsung bertanya, uang itu untuk siapa”. Yang membawa uang menjawab,
“uang untuk nanggroe”.
Mendengar itu, Teungku Lah menyatakan, “kalau untuk nanggroe (biaya
perjuangan GAM) jangan kasih ke saya, serahkan kepada yang berhak pegang
uang itu”.
“Begitulah sifat Teungku Lah, beliau tidak mau menerima yang bukan haknya,” kata Usman Basyah.
Dalam pandangan Usman Basyah, Abdullah Syafie betul-betul seorang
panglima, pemimpin yang memberi contoh teladan kepada pasukannya. Juga
sangat peduli dengan nasib masyarakat miskin, persis seperti yang dulu
dicita-citakan untuk membawa Aceh lebih sejahtera.
Setelah 14 tahun berlalu, adakah sifat Teungku Lah itu diwarisi oleh
mantan GAM lain setelah sebagian dari mereka kini menjadi pejabat publik
di Aceh?[]